Advertising

Tempat Rekreasi populer di JOGJA

Yogyakarta punya segudang opsi untuk wisatawan. Tetapi saat musim liburan, wisatawan tetap menyerbu 10 wisata populer berikut.
Inilah kesepuluh wisata wajib mampir di Kota Gudeg.
1) KeratonJalan Rotowijayan 1Buka: Sabtu sampai Kamis 08.00-14.00, Jumat 08.00-12.00
Keraton Yogyakarta
Keraton Yogyakarta. Foto: Antara/Noveradika
Bangunan kebanggaan dari tahun 1756 ini merupakan simbol budaya, politik, tahta, kediaman Sultan Yogyakarta, sekaligus pusat arsitektur tradisional Jawa. Saat musim liburan, jumlah kunjungan ke tempat tersebut bisa menembus 5.000 orang per hari.
Sebagian besar ruang-ruang keraton sekarang berfungsi sebagai museum. Berbagai benda koleksi Kesultanan Yogyakarta dipamerkan di sini. Wisatawan juga bisa menengok satu ruangan yang khusus menyimpan kenang-kenangan milik mendiang Sultan Hamengku Buwono IX. Ruangan tersebut berisi foto-foto pribadi, meja, dan peralatan makan yang ia gunakan saat berkunjung di Belanda.
Keraton, atau yang bernama lengkap Karaton Kasultanan Ngayogyakarta, rutin menggelar berbagai pertunjukkan tradisional Jawa. Setiap Senin, Selasa, dan Kamis, wisatawan bisa menyaksikan pertunjukkan gamelan. Pada hari Rabu wisatawan bisa menikmati pergelaran wayang golek. Sementara itu, Jumat biasa digelar nyanyian dan puisi Jawa.
Di sekitar kawasan keraton, berdiri beberapa museum menarik yang mengabadikan sejarah panjang Kota Yogyakarta. Antara lain Museum Kereta Keraton (dekat gerbang masuk keraton), Museum Sonobudoyo, Benteng Vredeburg (Jalan Jenderal A Yani), Pura Pakualaman (Jalan Sultan Agung), dan Sasmitaloka Jenderal Sudirman (Jalan Bintaran Wetan).
Malioboro
Foto: Antara/Noveradika
2) Malioboro
Jalan yang membentang tidak lebih dari dua kilometer – mulai dari Tugu Yogyakarta sampai ke simpangan Kantor Pos Yogyakarta – ini terkenal sebagai jantung wisata Yogyakarta. Pedagang kaki lima selalu menggelar kerajinan mereka di sana. Beranjak malam, lapak-lapak kaki lima mulai tutup dan tempat mereka diambil alih warung-warung lesehan dan pedagang gudeg yang melayani pelanggan hingga subuh.
Malioboro juga tempat kumpul tukang becak, penarik delman, dan seniman jalanan dari daerah sekitar Yogyakarta. Seniman-seniman Malioboro biasa mengekspresikan kemampuan dengan berbagai cara, seperti ngamen, melukis, pantomim, dan melakukan aksi-aksi teatrikal.
3) Sendratari Ramayana
Jalan Raya Jogja – Solo Kilometer 16 Prambanan
Sendratari Ramayana adalah pentas budaya yang mengangkat epik Ramayana. Sendratari tersebut pertama kali dipentaskan pada 28 Juli 1961. Setengah abad berlalu, pementasan yang berlangsung di panggung terbuka sebelah selatan Candi Prambanan tersebut masih menarik minat wisatawan.
Seiring perkembangan zaman, dibangun sebuah panggung utama yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 1989. Sejak saat itu, wisatawan bisa menyaksikan gelaran tersebut di Panggung Kesenian Trimurti atau di teater terbuka dengan latar Candi Prambanan, tergantung cuaca.
Pertunjukkan Sendratari Ramayana  berlangsung setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Harga tiket pertunjukkan di teater terbuka yaitu Rp 300.000 (kelas VIP, termasuk soft drink, suvenir, dan snack), Rp 200.000 (kelas khusus, termasuk soft drink), Rp 150.000 (first class), dan Rp 100.000 (second class). Sedangkan di Teater Trimurti, tiket berkisar antara Rp 200.000 dan Rp 25.000.
Beringharjo
Foto: Wego Photo Contest/Chandra Herman
4) Pasar Beringharjo
Jalan Pabringan nomor 1 
Pasar Beringharjo, dulu dikenal dengan sebutan Pasar Lor dan Pasar Gedhe, sampai sekarang masih menjadi pusat pedagang tradisional di Kota Gudeg. Letaknya dekat pintu masuk Alun-Alun Utara, diapit oleh Jalan Malioboro dan Benteng Vredeburg.
Pasar ini dulunya sebuah hutan beringin tempat warga Jogja melakukan transaksi ekonomi. Pasar terbentuk sekitar tahun 1758, tetapi bangunan permanen baru berdiri pada tahu 1925. Beringharjo diambil dari kata bering yang berarti hutan beringin dan harjo yang berarti kesejahteraan.
Seiring perkembangan zaman, bangunan pasar sudah banyak berubah walau pintu masuknya masih sama seperti  seabad yang lalu. Pasar Beringharjo yang sekarang memiliki bangunan bertingkat dan dilengkapi eskalator. Pusat batik terletak di lantai dasar. Koleksi coraknya beragam, tidak cuma corak Jogja tetapi juga corak Solo dan Pekalongan. Produk yang ditawarkan juga beragam, mulai dari pakaian jadi, kain batik, batik katun, batik lawas, dan batik sutra. Harganya berkisar dari Rp5.000 hingga jutaan rupiah.
Di lantai dua, wisatawan bisa menemukan berbagai bahan dasar jamu dan rempah-rempah. Sedangkan barang antik dan pakaian bekas dijual di lantai tiga. Kalau sudah pegal berkeliling mencari batik, manjakan lidah dengan jajanan pasar yang dijual di area depan dan belakang Pasar Beringharjo. Jajanan yang bisa ditemukan di sini antara lain brem bulat, bakpia hangat, nagasari, cendol, dan ting-ting.
Pasar tutup pukul 17.00, tetapi kesibukan pedagang belum berhenti. Selepas sore, pedagang kuliner berdagang sekitar Pasar Beringharjo. Mereka menjual martabak, terang bulan, dan klepon. Mulai pukul 18.00 hingga lewat tengah malam, pelataran Pasar Beringharjo berganti menjadi warung gudeg, tempat wisatawan makan lesehan sambil mendengar alunan musik pengamen jalanan.
Bakpia pathuk
Foto: Antara/Regina Safri
5) Bakpia
Di Yogyakarta, bakpia yang diproduksi oleh industri rumahan hampir selalu bisa ditemui di setiap sudut kota. Beberapa tempat yang menjadi langganan para wisatawan antara lain Jalan Bhayangkara (Pathuk), Jalan Adi Sutjipto (Jalan Solo-Jogja), Jalan Mataram, dan Kranggan.
Soal rasa, bakpia yang ditawarkan produsen bakpia di Yogyakarta amat beragam. Tak cuma berisi kacang hijau, sekarang bakpia juga ditawarkan dalam rasa durian, nanas, stroberi, cokelat, keju, dan cappucino.
Beberapa tahun terakhir, sejumlah produsen bakpia juga membuka dapur mereka untuk wisata. Tertarik melihat langsung proses pembuatan bakpia? Lokasi yang bisa Anda tuju adalah Jalan KS Tubun Pathuk, berjarak sekitar 300 meter sebelah barat Jalan Malioboro.
6) Gudeg
Gudeg adalah kuliner terpopuler di Yogyakarta. Tidak sah namanya kalau main ke Kota Gudeg tapi tidak menyantap kuliner yang satu ini. Gudeg merupakan olahan nangka muda atau gori, yang dimasak bersama kuah santan dan bumbu rempah sampai empuk dan manis, lalu disajikan bersama sambal goreng krecek, telur pindang, tahu, tempe bacem, dan ayam opor.
Gudeg biasa menjadi menu sarapan sebagian besar warga Yogyakarta. Kawasan penjual gudeg terkenal tersebar mulai dari Barek, Jalan Adisucipto, Wijilan, dan sekitar pasar tradisional. Sama seperti bakpia, gudeg juga kuliner yang diburu untuk oleh-oleh. Sejumlah penjual menyediakan besek dan kendil untuk mengemas gudeg supaya awet dibawa ke luar kota.
Tugu Jogja
Foto: Antara/Sigid Kurniawan
7) Tugu Jogja
Ada banyak mahasiswa perantau yang melampiaskan kegembiraan lulus kuliah dengan memeluk atau mencium Tugu Jogja. Tugu yang telah berusia hampir 3 abad tersebut berdiri di tengah-tengah perempatan ramai Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Jenderal Soedirman, Jalan AM Sangaji, dan Jalan Diponegoro.

8) Taman SariJam Buka: 09.00 – 15.30, Senin – Minggu 
Objek wisata Istana Air Taman Sari adalah situs bekas taman istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Taman ini berdiri sejak masa pemerintah Sultan Hamengku Buwono I (1758-1765). Saat musim liburan, komplek seluas 10 hektare tersebut bisa dipadati 500 pengunjung per hari.
Istana yang berjarak 2 kilometer selatan keraton tersebut dulunya terbagi menjadi empat bagian, yakni danau buatan dengan pulau-pulau dan paviliun, komplek pemandian, komplek paviliun dan kolam, serta sebuah danau kecil. Saat ini, bangunan yang masih tersisa adalah komplek pemandian utama.
9) Mirota Batik
Merasa kurang mahir untuk urusan tawar-menawar? Mirota Batik, sebuah toko suvenir yang terletak di tengah keramaian Malioboro bisa menjadi jawaban untuk Anda. Bangunan tiga lantai yang selalu ramai pembeli ini semacam gudang batik dan suvenir. Wisatawan bisa menemukan berbagai produk batik, tas atau sarung laptop bermotif batik, dekorasi rumah, sepatu, jamu, lulur, tirai batik, sandal, tikar, asbak, minyak aromaterapi, snack khas Jogja, dan aneka suvenir khas Yogyakarta.
10) Alun-Alun Kidul
Alun-Alun Kidul, atau biasa disingkat Alkid, adalah kawasan di belakang komplek keraton yang ditumbuhi dua beringin besar. Tidak jauh dari sentra gudeg di Wijilan. Masyarakat setempat meyakini tempat ini sebagai tempat peristirahatan para dewa.
Mulai pukul 17.00, suasana di Alun-Alun Kidul mulai ramai oleh pedagang makanan dan minuman. Beberapa jajanan tradisional yang dapat ditemukan di tempat ini antara lain wedang ronde, bajigur, jagung bakar, dan roti bakar.
Dan, yang paling terkenal dari tempat ini adalah masangin. Masangin adalah berjalan melewati celah antara dua pohon beringin besar dengan mata tertutup. Konon, apabila Anda mampu melewati celah tersebut tanpa menabrak atau berjalan serong maka Anda akan mendapat berkah besar. Sebaliknya, jika Anda mencoba mengintip maka Anda akan masuk ke dunia lain dan sulit kembali ke alam nyata. Banyak wisatawan tertarik mencoba masangin  di tempat ini, itu sebabnya tersedia tempat penyewaan kain hitam penutup mata.

0 Response to "Tempat Rekreasi populer di JOGJA"

Post a Comment

wdcfawqafwef